Saturday, March 1, 2008

My Son, My Partner

Menarik juga pengalaman kami di hari Sabtu tanggal 1 Maret 2008 ini. Hari ini kami di rumah saja berdua dengan my only son Bobby. Setelah pagi sampai jam 9 kami sibuk dengan kegiatan masing-masing, saya bermain badminton sementara Bobby my son mengaji bersama Nisa saudara sepupunnya. Setelah itu saya ada rapat di musola sampai lohor dan my son yang panggilan kesayangan oleh keluarga OB (obi) bermain-main di rumah dan seperti biasa setelah azan OB menyusul saya ke musola untuk shorat lohor berjamaah. Setelah selesai solat kita pulang dan makan siang berdua. Mamanya kebetulan siang ini ada janji dengan klien di daerah jalan Fatmawati, jadilah kami berdua menikmati week end dengan penuh keceriaan. OB my son sekarang umurnya 8 tahun, pelajar kelas 3 SDI Amalina, Pondok Aren Tangerang.


Selesai makan, saya duduk di depan tv menonton acara kesukaan saya setiap Sabtu yaitu berita olahraga di TV7, Metro atau ANTV. Sementera my son bermain di kantor. Ya, kami mempunyai kantor di rumah selain di kantor resmi perusahaan kami. Tak lama kemudian my son menemui saya dan berkata “papa, papa, aku heran ini ada fax banyak sekali datangnya, tuh masih ada lagi yang masuk” katanya. Lalu saya tanya “mana faxnya” dia bilang “sudah ditarok di meja kerja papa”. Sayapun beranjak dari depan tv menuju ruang kantor dan ternyata ada setumpukkan fax baru masuk dari salah satu klien kami berisi informasi kapal dan barang yang segera diasuransikan mulai hari ini karena kapal sudah berangkat tadi pagi dari Singapura ke Jakarta. Karena ini adalah permintaan urgent dan sudah agak terlambat langsung saya kerjakan dengan memberitahukan kepada rekan-rekan asuransi kami.

Pada saat itulah tanpa sengaja saya melibatkan my son sebagai partner bisnis saya. Pada saat saya mengerjakan pekerjaan itu my son selalu berada di kantor sambil memperhatikan saya bekerja dan mendengarkan pembicaraan saya di telepon lalu my son menanyakan banyak sekali bertanyaan mengenai pekerjaan saya.

Berikut in pertanyaan dan diskusi saya dengan my son yang menggilitik saya. Mudah-mudahan ini bermanfaat bagi teman-teman dan saudaraku semua.

“Pa, kok orang kirim fax kepada kita untuk apa?”. Saya jawab bahwa mereka itu adalah rekan bisnis kita (saya sebutkan kita karena dari semula saya sudah beritahu bahwa perusahaan ini adalah bisnis kita (saya, mamanya dan my son bahkan my son dari semula sudah punya kartu nama dengan jabatan Very Young Assistant). Saya lanjutkan, “mereka memberi order kepada kita dan dari order ini kita akan dapat uang” jawab saya. Langsung my son bertanya lagi “berapa pa, kita dapat uangnya?” lalu saya ambil kalkulator saya hitung dan saya lihatkan kepada my son, lalu reaksinya “ wah pa kita dapat sebanyak itu, banyak juga ya!” reaksinya dengan wajah penuh kagum.

Lalu keluar pernyataannya yang sangat menggelitik saya, “pa kalau begitu kita bersyukur ya, kita punya kantor seperti ini dari pada punya warung, kan warung paling orang belanjanya Cuma 5 ribu, paling tinggi juga 20 ribu sekali belanja” pernyataan ini benar-benar mencengangkan saya karena berasal dari anak berumur 8 tahun. Lalu my son bertanya bagaimana caranya dulu kita bisa punya kantor, lalu saya jelaskan bahwa kita perlu sekolah dulu, kuliah serta belajar kerja baru kalau sudah bisa langsung jadi kerja. “Tapi aku suka kerja di kantor kita dari pada di warung, kan di warung tidak perlu computer dan fax” tambahnya lagi.

Suasana menjadi tambah menarik karena my son mulai bertanya bagaimana caranya kita mendapatkan uang dari bisnis. Lalu saya jelaskan dengan menggunakan diagram dan skema mengenai fungsi dan tugas sebagai seorang agen dan broker asuransi. Lalu jawabnya “ jadi MAA, AIU, ALLIANZ serta perusahaan asuransi lain itu adalah teman-teman kita ya pa!” gumamnya sambil memegang pulpen. Dan selanjutnya my son menambahkan lagi dan “ PT A, PT B dan PT C itu adalah klien kita ya” lanjutnya lagi. Karena memang my son sudah familiar dengan nama-nama klien kami karena filenya/ordnernya hampir setiap hari dilihatnya demikian juga surat-surat masuk yang ada di meja staff.Jadi my son sudah masuk ke pelajaran dasar asuransi “introduction to insurance”.

Setelah saya selesai membuat fax dan ketika akan memasukkannya ke mesin fax tiba-tiba my son berkata “pa biar aku aja yang mengirimkan!” pintanya. Lalu saya tanya apakah sudah bisa, jawabnya “belum, tapi aku sudah pernah lihat tante Yetty” jawabnya. Dia berjalan ke mesin fax dan mulai memasukkan kertas ke dalam mesin dan ternyata my son belum bisa, lalu saya bantu dia. Untuk fax yang keduanya my son sudah bisa melakukannya sendiri. Dan bertanya apakah fax itu sudah benar-benar sampai di tempat tujuan. Suatu pelajaran bisnis dasar yang tidak banyak anak seusia my son akan mendapatkannya.

Melihat antusiasme my son, saya jelaskan lebih lanjut mengenai cara bekerja dan beberapa hal yang harus di kuasai. Saya memperkenalkan istilah-istilah dan pengertian dari Manjemen, Marketing, Adiministrasi, System dan lain-lain. Pada saat saya menjelaskan kata Marketing dia mengomentari “ jadi kalau papa pergi-pergi itu, papa lagi mengerjakan marketing, makanya papa dulu gak dimarahi boss kabur-kabur begitu”, wah lucu juga komentarnya.

Lalu saya beri gambaran kepada my son mengenai perkembangan bisnis kita, “dulu ingatkan waktu kita mulai L&G kita belum ada klien? dan sekarang kita sudah punya banyak klien, itu karena kita melakukan marketing” jelas saya. Tapi my son punya komentar yang sedikit futuristic, “ kalau begitu tahun depan bisnis kita bisa semakin besar ya pa, bisa lebih besar dari PT…. (dia menyebutkan perusahaan saya terdahulu)” Saya jawan ya “Insya Allah, bisa”. Lanjutnya lagi “nanti kantor kita harus lebih besar dari ini karena sudah tidak muat lagi, aku mau kantor kita besar dan di luarnya ada tulisan L&G” lanjutnya. Ya Allah, sungguh luar biasa imajinasi my son ini.

Pembicaraan futuristic ini berlanjut terus sampai kepada ketika saya mengatakan “nanti kalau perusahaan ini sudah besar dan papa sudah tua OB saja yang meneruskan” dan my son memberikan komentar “jadi aku ini generasi penerus ya pa” wah, jawaban yang sangat smart lagi. Saya melihat bahwa my son benar-benar sudah memahami visi saya.

Ya memang, saya sekarang saya punya keinginan bahwa saya hanya akan berpartner dengan keluarga dekat saja. Cukuplah pengalaman saya selama 10 tahun bekerjasama dengan orang lain yang berakhir dengan kekecewaan. Waktu, uang, tenaga serta kreatifitas yang sudah saya bangun selama itu menjadi sia-sia. Ternyata susah sekali menjadi teman yang benar-benar teman. Pada akhirnya tetap juga “what is in it for me”. Mereka akan menjadi teman jika mereka masih menikmati manfaat dari kita atau selama mereka masih lemah. Segalanya akan berubah ketika mereka sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Kembali ke my son, “pa, L&G sudah terkenal sampai ke luar negeri belum?” tanyanya. Saya jawab “ sudah ada beberapa orang yang kenal melalui e-mail dan internet”. Ya memang sudah banyak yang mengenal kami, ini terbukti dari jumlah kunjungan yang cukup tinggi ke blog kami. Selanjutnya my son mengatakan “ bagaimana kalau banyak orang dari Arab, orang Bule, orang Cina datang ke kantor kita” tanya lagi.

Diskusi dengan my son selalu menyenangkan, hal ini hampir setiap hari saya nikmati terutama di pagi hari pada saat saya antar my son menuju sekolahnya sekitar 15 menit dari rumah. Alhamdulillah sejak my son sekolah di TK A sampai sekarang saya hampir selalu punya waktu untuk mengantar, ini memang cita-cita saya dari dulu bahwa saya ingin punya waktu yang banyak untuk my son. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaannya selama perjalanan, bersyukurlah saya ayahnya yang memberikan jawaban, bukan orang lain. Karena jawaban saya pasti dengan motivasi menuju ke visi saya, bukan asal jawab.

Catatan ini sejalan pula dengan pengalaman saya yang sangat menarik dalam minggu lalu. Hari Senin saya mengadakan pertemuan dengan seorang tokoh bisnis yang hampir semua orang kenal yaitu bapak Robby Tjahjadi, Anda kenalkan? Di situ saya juga diperkenalkan dengan salah seorang anak beliau Michael Tjahjadi. Saya terkesan dengan kerjasama dan teamwork dan keluarga ini. Saya kagum dengan pak Robby yang memberikan kepercayaan kepada Michael untuk memimpin perusahaan-perusahaan keluarga itu.

Pengalaman kedua adalah ketika saya menghadiri seminar yang diselenggarakan oleh Sabila Center for Competitiveness yang dituan rumahi oleh saudara/kakak saya Israr Rusi di Hotel Mulia tanggal 26 February 2008. Walau saya tidak mengikuti seminar itu sampai selesai tapi saya sangat beruntung dapat mengikuti 2 pembicara awal. Yang pertama adalah saudaraku Handry Satriago Director Power Generation GE Energy yang benar-benar telah memberi inspirasi mengenai pentingnya mengembangkan Competitiveness. Selain itu yang menarik di dalam penyelenggaraan ini saya bertemu dengan kkd Jahar Indra ayahAnda dari Handry.

Yang sangat lebih berkesan bagi saya sehubungan tulisan ini adalah pembicara kedua yaitu Anindya Bakrie President Director dari Bakrie Telecom dan perusahaan-perusahaan Group Bakrie lainnya sebuah group bisnis terbesar di negeri ini saat ini. Anindaya benar-benar memberi inspirasi kepada saya bahwa seorang “generasi penerus” dari keluarga mampu mengangkat dan memajukan bisnis keluarga yang sedemikian besar dengan berbagai masalah dan tantangan. Nilai-nilai kekeluargaan yang sedemikian kuatlah yang bisa mengangkat Bakrie Group dari keterpurukan setelah krisis moneter tahun 1998 yang lalu. Bagaimana keluarga telah mempersiapkan Anindya sebagai orang yang akan meneruskan kepemimpinan Bakrie dengan memberikan pendidikan formal dan non formal selama bertahun-tahun sehingga akhirnya mampu menjadi pengendali Bakrie group dan mencapai pertumbuhan sebesar sekarang ini.

Tulisan ini juga melengkapi e-mail yang diforward oleh ananda Hamdi Murni di milis Sarik Laweh mengenai orang nomor 2 terkaya di dunia Warren Buffet, dimana sejak kecil mas Warren sudah terbiasa dengan bisnis dan investasi, pada usia 8 dan 11 tahun sudah mulai membangun bisnis investasi hingga sekarang menjadi perusahaan raksasa.

Demikian catatan ini, semoga menginsipirasi Anda untuk mempersiapkan generasi penerus bisnis Anda.

Salam,

Mhd. Taufik Arifin SE, APAI, CIIB

Insurance and Risk Management Consultant

Sunday, February 24, 2008

Sakit Kritis, Sakit Mahal Sekali…

Dalam satu tahun ini saya menyaksikan dua orang kerabat dekat yang mengalami penyakit jantung salah satu penyakit kritis yang sangat mematikan saat ini. Pertama kakak sepupu saya, seorang pria berumur 50 tahun. Pertengahan tahun 2007 lalu beliau menjalani operasi jantung by pass setelah sebelumnya beliau menjalani operasi jantung ringan dengan pemasangan 3 buah cincin/stain di Singapura. Ternyata pemasangan stain ini tidak mengatasi masalah dan hanya bertahan sekitar 6 bulan kemudian dokter menyatakan bahwa beliau harus menjalasi oprasi by pass karena terjadi penumpukkan lemat di ujung-ujung stain yang dipasang. Akhirnya beliau menjalasi operasi jantung by pass di Jakarta. Alhamdullilah operasi berjalan lancar dan beliau sekarang sudah sehat seperti semula.

Orang dekat kedua adalah kakak ipar saya yaitu kakak kandung dari isteri saya seorang pria juga dan umurnya juga hampir sama dengan kakak sepupu saya. Beliau baru saja keluar dari rumah sakit setelah di rawat selama 1 bulan lebih akibat serangan jantung dan kemudian dilakukan operasi jantung by pass di salah satu rumah sakit internasional di Jakarta Timur. Alhamdullilah operasi berjalan lancar dan sekarang beliau dalam proses pemulihan.

Yang menarik dari kedua orang ini adalah bahwa keduanya bukan perokok dan sangat menyenangi olah raga. Tapi kedua ayah dari mereka juga meninggal dunia akibat penyakit jantung pada usia yang hampir sama dengan pada saat mereka terkena penyakit ini, jadi besar kemungkinan bagi mereka penyakit jantung adalah penyakit keturunan.

Dari kedua kejadian pada orang dekat ini, ada satu hal yang menjadi perhatian saya yaitu biaya perawatannya yang sangat luar biasa besar. Kakak sepupu saya secara keseluruhan termasuk perawatan di Singapura dan operasi di Jakarta telah menghabiskan uang sekitar empat ratus juta rupiah, sedangkan kakak ipar saya selama 1 bulan di rawat di rumah sakit juga menghabiskan dana dalam jumlah yang sama dengan yang dikeluarkan oleh kakak sepupu saya. Beruntunglah kedua kakak-kakak saya ini, kakak sepupu saya Alhamdulillah mempunyai kemampuan untuk membayar semua biaya dan ditambah klaim dari asuransi jiwa. Sementara kakak ipar saya lebih beruntung lagi karena semua biaya rumah sakit ditanggung 100 persen oleh perusahaan tempatnya bekerja sebuah BUMN. Namun di luar biaya rumah sakit masih banyak lagi biaya yang dikeluarkan selama 1 bulan itu. Biaya bolak-balik keluarga ke rumah sakit, sewa kamar hotel bagi keluarga yang datang menjenguk, biaya extra kendaraan dan banyak lagi biaya lainnya yang kalau di total bisa di atas 10 juta rupiah.

Melihat apa yang dialami oleh keluarga dekat ini, saya mengingatkan diri saya untuk bersiap-siap menghadapi kondisi seperti ini. Kalau di lihat dari segi usia dan asal usul dimana kami sama-sama berasal dari suku Minang yang terkenal dengan pengonsumsi makanan berkolesterol tinggi, maka tidak tertutup kemungkinan sayapun akan mengalami penyakit yang sama pada saat saya mencapai usia seperti mereka terkena penyakit itu. Kalau dari segi pengobatannya tidak perlu diragukan lagi, menurut dokter yang merewat kakak ipar saya bahwa saat ini kemungkinan keberhasilan operasi jantung itu sekitar 90% jadi, sangat tinggi. Namun yang menjadi pemikiran saya adalah pengadaan biaya yang sebesar 400 juta itu! Darimanakah saya harus menyediakan dana sebanyak itu karena kondisi keuangan kami saat ini tidak sebaik kondisi kakak sepupu saya sementara kami juga bukan pegawai dari sebuah perusahaan yang mampu mengganti semua biaya perawatan segala macam penyakit yang diderita karyawannya.

Alhamdulliah, sekarang kami sudah menemukan jalan keluarnya. Sejak tahun lalu kami membeli produk asuransi Unit Link dari salah satu perusahaan asuransi asing terbesar di Indonesia dimana di dalam jaminan asuransi ini kami mengambil paket Critical Illness atau CI Plus yang menjamin sebanyak 38 jenis penyakit kritis termasuk penyakit jantung. Jaminan asuransi Critical Illness akan mulai berlaku pada saat kami didiagnosa mengidap penyakit jantung dan telah diambil tindakan operasi sebagai usaha pengobatan. Perusahaan asuransi akan memberikan santunan sesuai dengan tingkat kekritisan penyakit jantung, dan jika telah diambil tindakan by pass maka akan menerima 100% dari jaminan yang sudah diasuransikan. Yang menariknya setelah kami mendapatkan penggantian dari perusahaan asuransi selanjutnya kami tidak perlu lagi membayar premi asuransi sampai masa polis asuransi berakhir atau sampai kami mencapai usia 65 tahun perusahaan asuransi akan membiayai kewajiban premi kami. Di samping itu jika sewaktu-waktu kami meninggal dunia dalam masa asuransi maka ahli waris dan keluarga kami masih berhak untuk mendapatkan dana sebesar nilai pertanggungan misalkan sebesar Rp. 250 juta. Inilah yang sangat menarik bagi kami karena biasanya program asuransi yang lain hanya mengganti jika peserta meninggal, sedangkan kalau peserta sakit kritis dia masih tetap harus membayar kewajiban premi asuransi walaupun pada saat itu dia tidak mampu membayarnya.

Di samping kami mengambil jaminan asuransi Critical Illness dari program Unit Link kami pun masih menambah jaminan asuransi lain yaitu asuransi Kesehatan Individu dimana kami akan mendapatkan perawatan di rumah-rumah sakit rekanan dari perusahaan asuransi tersebut yang tersebar di kota berbagai tempat di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. Di dalam polis asuransi ini kami juga akan mendapatkan manfaat operasi besar termasuk jantung sekitar Rp 100 juta maksimal, jadi dengan demikian kami mempunyai tambahan jaminan atas biaya pengobatan penyakit kritis jika terjadi pada saya.

Teman-teman dan saudara-saudaraku bagaimana dengan Anda? Sudahkan Anda bersiap diri untuk menghadapi kondisi seperti yang dialami oleh kedua orang dekat kami di atas? Apakah Anda sudah mengalokasikan dana dan tabungan Anda jika itu terjadi? Kalau sudah apakah jumlahnya sudah cukup banyak sehingga Anda tidak perlu merepotkan orang lain.
Kalau Anda sakit yang bertanggung jawab untuk pengobatan adalah Anda sendiri! bukan orang tua, bukan saudara bukan pula teman-teman Anda, hanya Anda sendirilah yang bertanggung jawab atas kesehatan diri Anda sendiri. Keluarga Anda sangat mengharapkan Anda tetap sehat dan produktif seperti biasa karena begitu banyak yang masih Anda selesaikan untuk membahagiakan keluarga Anda. Pendidikan anak-anak tercinta, hutang-hutang yang masih harus dilunasi, cicilan rumah yang harus diselesaikan dan segudang kewajiban lain yang harus Anda selesaikan. Jadi Anda harus sembul dari penyakit itu untuk kepentingan keluarga tercinta.

Saya rasa cara yang paling bijak adalah dengan mempersiapkan segala sesuatu dari sekarang pada saat kondisi Anda masih baik, kalau sudah sakit tidak ada lagi asuransi yang mau menjamin Anda.

Sebagai orang yang sudah 25 tahun hidup di dunia asuransi, penciptaan program Critical Illness pada asuransi jiwa merupakan program yang paling fenomenal karena selama ini jaminan asuransi hanya berupa jaminan tradisional dimana penggantian hanya diberikan jika tertanggung meninggal dunia. Tapi di dalam program asuransi Critical Illness Anda sakit tapi terkena penyakit kritis Anda sudah bisa mendapatkan manfaat asuransi sehingga Anda bisa pulih kembali dan Anda terbebas dari kewajiban membayar premi untuk sisa masa asuransi.

Milikilah program jaminan asuransi ini sekarang juga sebelum terlambat. Di bandingkan dengan manfaat yang akan didapatkan biaya yang dikeluarkan sangatlah sedikit, Anda hanya perlu menyisihkan sekitar 4%/tahun dari nilai ekonomis Anda dan Insya Allah dengan alokasi dana yang sebesar itu sudah cukup untuk melindungi Anda dan keluarga.

Saya siap membantu Anda, silakan kirimkan e-mail kepada taufikarifin@yahoo.com

Semoga bermanfaat,

Accident can happen anywhere and anytime, protect now!!

Salam,

Mhd. Taufik Arifin SE, APAI, CIIB

Insurance and Risk Management Consultant