Menarik juga pengalaman kami di hari Sabtu tanggal 1 Maret 2008 ini. Hari ini kami di rumah saja berdua dengan my only son Bobby. Setelah pagi sampai jam 9 kami sibuk dengan kegiatan masing-masing, saya bermain badminton sementara Bobby my son mengaji bersama Nisa saudara sepupunnya. Setelah itu saya ada rapat di musola sampai lohor dan my son yang panggilan kesayangan oleh keluarga OB (obi) bermain-main di rumah dan seperti biasa setelah azan
Selesai makan, saya duduk di depan tv menonton acara kesukaan saya setiap Sabtu yaitu berita olahraga di TV7, Metro atau ANTV. Sementera my son bermain di kantor. Ya, kami mempunyai kantor di rumah selain di kantor resmi perusahaan kami. Tak lama kemudian my son menemui saya dan berkata “papa, papa, aku heran ini ada fax banyak sekali datangnya, tuh masih ada lagi yang masuk” katanya. Lalu saya tanya “mana faxnya” dia bilang “sudah ditarok di meja kerja papa”. Sayapun beranjak dari depan tv menuju ruang kantor dan ternyata ada setumpukkan fax baru masuk dari salah satu klien kami berisi informasi kapal dan barang yang segera diasuransikan mulai hari ini karena kapal sudah berangkat tadi pagi dari Singapura ke
Pada saat itulah tanpa sengaja saya melibatkan my son sebagai partner bisnis saya. Pada saat saya mengerjakan pekerjaan itu my son selalu berada di kantor sambil memperhatikan saya bekerja dan mendengarkan pembicaraan saya di telepon lalu my son menanyakan banyak sekali bertanyaan mengenai pekerjaan saya.
Berikut in pertanyaan dan diskusi saya dengan my son yang menggilitik saya. Mudah-mudahan ini bermanfaat bagi teman-teman dan saudaraku semua.
“Pa, kok orang kirim fax kepada kita untuk apa?”. Saya jawab bahwa mereka itu adalah rekan bisnis kita (saya sebutkan kita karena dari semula saya sudah beritahu bahwa perusahaan ini adalah bisnis kita (saya, mamanya dan my son bahkan my son dari semula sudah punya kartu nama dengan jabatan Very Young Assistant). Saya lanjutkan, “mereka memberi order kepada kita dan dari order ini kita akan dapat uang” jawab saya. Langsung my son bertanya lagi “berapa pa, kita dapat uangnya?” lalu saya ambil kalkulator saya hitung dan saya lihatkan kepada my son, lalu reaksinya “ wah pa kita dapat sebanyak itu, banyak juga ya!” reaksinya dengan wajah penuh kagum.
Lalu keluar pernyataannya yang sangat menggelitik saya, “pa kalau begitu kita bersyukur ya, kita punya kantor seperti ini dari pada punya warung, kan warung paling orang belanjanya Cuma 5 ribu, paling tinggi juga 20 ribu sekali belanja” pernyataan ini benar-benar mencengangkan saya karena berasal dari anak berumur 8 tahun. Lalu my son bertanya bagaimana caranya dulu kita bisa punya kantor, lalu saya jelaskan bahwa kita perlu sekolah dulu, kuliah serta belajar kerja baru kalau sudah bisa langsung jadi kerja. “Tapi aku suka kerja di kantor kita dari pada di warung,
Suasana menjadi tambah menarik karena my son mulai bertanya bagaimana caranya kita mendapatkan uang dari bisnis. Lalu saya jelaskan dengan menggunakan diagram dan skema mengenai fungsi dan tugas sebagai seorang agen dan broker asuransi. Lalu jawabnya “ jadi MAA, AIU, ALLIANZ serta perusahaan asuransi lain itu adalah teman-teman kita ya pa!” gumamnya sambil memegang pulpen. Dan selanjutnya my son menambahkan lagi dan “ PT A, PT B dan PT C itu adalah klien kita ya” lanjutnya lagi. Karena memang my son sudah familiar dengan nama-nama klien kami karena filenya/ordnernya hampir setiap hari dilihatnya demikian juga surat-surat masuk yang ada di meja staff.Jadi my son sudah masuk ke pelajaran dasar asuransi “introduction to insurance”.
Setelah saya selesai membuat fax dan ketika akan memasukkannya ke mesin fax tiba-tiba my son berkata “pa biar aku aja yang mengirimkan!” pintanya. Lalu saya tanya apakah sudah bisa, jawabnya “belum, tapi aku sudah pernah lihat tante Yetty” jawabnya. Dia berjalan ke mesin fax dan mulai memasukkan kertas ke dalam mesin dan ternyata my son belum bisa, lalu saya bantu dia. Untuk fax yang keduanya my son sudah bisa melakukannya sendiri. Dan bertanya apakah fax itu sudah benar-benar sampai di tempat tujuan. Suatu pelajaran bisnis dasar yang tidak banyak anak seusia my son akan mendapatkannya.
Melihat antusiasme my son, saya jelaskan lebih lanjut mengenai cara bekerja dan beberapa hal yang harus di kuasai. Saya memperkenalkan istilah-istilah dan pengertian dari Manjemen, Marketing, Adiministrasi, System dan lain-lain. Pada saat saya menjelaskan kata Marketing dia mengomentari “ jadi kalau papa pergi-pergi itu, papa lagi mengerjakan marketing, makanya papa dulu gak dimarahi boss kabur-kabur begitu”, wah lucu juga komentarnya.
Lalu saya beri gambaran kepada my son mengenai perkembangan bisnis kita, “dulu ingatkan waktu kita mulai L&G kita belum ada klien? dan sekarang kita sudah punya banyak klien, itu karena kita melakukan marketing” jelas saya. Tapi my son punya komentar yang sedikit futuristic, “ kalau begitu tahun depan bisnis kita bisa semakin besar ya pa, bisa lebih besar dari PT…. (dia menyebutkan perusahaan saya terdahulu)” Saya jawan ya “Insya Allah, bisa”. Lanjutnya lagi “nanti kantor kita harus lebih besar dari ini karena sudah tidak muat lagi, aku mau kantor kita besar dan di luarnya ada tulisan L&G” lanjutnya. Ya Allah, sungguh luar biasa imajinasi my son ini.
Pembicaraan futuristic ini berlanjut terus sampai kepada ketika saya mengatakan “nanti kalau perusahaan ini sudah besar dan papa sudah tua
Ya memang, saya sekarang saya punya keinginan bahwa saya hanya akan berpartner dengan keluarga dekat saja. Cukuplah pengalaman saya selama 10 tahun bekerjasama dengan orang lain yang berakhir dengan kekecewaan. Waktu, uang, tenaga serta kreatifitas yang sudah saya bangun selama itu menjadi sia-sia. Ternyata susah sekali menjadi teman yang benar-benar teman. Pada akhirnya tetap juga “what is in it for me”. Mereka akan menjadi teman jika mereka masih menikmati manfaat dari kita atau selama mereka masih lemah. Segalanya akan berubah ketika mereka sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Kembali ke my son, “pa, L&G sudah terkenal sampai ke luar negeri belum?” tanyanya. Saya jawab “ sudah ada beberapa orang yang kenal melalui e-mail dan internet”. Ya memang sudah banyak yang mengenal kami, ini terbukti dari jumlah kunjungan yang cukup tinggi ke blog kami. Selanjutnya my son mengatakan “ bagaimana kalau banyak orang dari Arab, orang Bule, orang Cina datang ke kantor kita” tanya lagi.
Diskusi dengan my son selalu menyenangkan, hal ini hampir setiap hari saya nikmati terutama di pagi hari pada saat saya antar my son menuju sekolahnya sekitar 15 menit dari rumah. Alhamdulillah sejak my son sekolah di TK A sampai sekarang saya hampir selalu punya waktu untuk mengantar, ini memang cita-cita saya dari dulu bahwa saya ingin punya waktu yang banyak untuk my son. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaannya selama perjalanan, bersyukurlah saya ayahnya yang memberikan jawaban, bukan orang lain. Karena jawaban saya pasti dengan motivasi menuju ke visi saya, bukan asal jawab.
Catatan ini sejalan pula dengan pengalaman saya yang sangat menarik dalam minggu lalu. Hari Senin saya mengadakan pertemuan dengan seorang tokoh bisnis yang hampir semua orang kenal yaitu bapak Robby Tjahjadi, Anda kenalkan? Di situ saya juga diperkenalkan dengan salah seorang anak beliau Michael Tjahjadi. Saya terkesan dengan kerjasama dan teamwork dan keluarga ini. Saya kagum dengan pak Robby yang memberikan kepercayaan kepada Michael untuk memimpin perusahaan-perusahaan keluarga itu.
Pengalaman kedua adalah ketika saya menghadiri seminar yang diselenggarakan oleh
Yang sangat lebih berkesan bagi saya sehubungan tulisan ini adalah pembicara kedua yaitu Anindya Bakrie President Director dari Bakrie Telecom dan perusahaan-perusahaan Group Bakrie lainnya sebuah group bisnis terbesar di negeri ini saat ini. Anindaya benar-benar memberi inspirasi kepada saya bahwa seorang “generasi penerus” dari keluarga mampu mengangkat dan memajukan bisnis keluarga yang sedemikian besar dengan berbagai masalah dan tantangan. Nilai-nilai kekeluargaan yang sedemikian kuatlah yang bisa mengangkat Bakrie Group dari keterpurukan setelah krisis moneter tahun 1998 yang lalu. Bagaimana keluarga telah mempersiapkan Anindya sebagai orang yang akan meneruskan kepemimpinan Bakrie dengan memberikan pendidikan formal dan non formal selama bertahun-tahun sehingga akhirnya mampu menjadi pengendali Bakrie group dan mencapai pertumbuhan sebesar sekarang ini.
Tulisan ini juga melengkapi e-mail yang diforward oleh ananda Hamdi Murni di milis Sarik Laweh mengenai orang nomor 2 terkaya di dunia Warren Buffet, dimana sejak kecil mas Warren sudah terbiasa dengan bisnis dan investasi, pada usia 8 dan 11 tahun sudah mulai membangun bisnis investasi hingga sekarang menjadi perusahaan raksasa.
Demikian catatan ini, semoga menginsipirasi Anda untuk mempersiapkan generasi penerus bisnis Anda.
Salam,
Mhd. Taufik Arifin SE, APAI, CIIB
Insurance and Risk Management Consultant

